Terbangun dini hari jam setengah empat subuh, mamaku sudah menyiapkan teh panas dan sepiring nasi untuk sarapan. Sambil memasakkan air panas untuk mandi, mama menyuruhku untuk segera sarapan dan memakan telur setengah matang sesudahnya. Di ruang tamu dan ruang tengah masih ada beberapa orang keluarga yang tertidur lelap. Sambil menhan kantuk karena semalam tidak bisa tidur lelap, aku menghabiskan sarapan. Hmm.. a brand new day is begin.. with me as the bride
Tepat pukul setengah lima, omku udah menjemput di depan rumah mau mengantarkan aku dan mama ke salon untuk dirias. Mama masih saja sibuk meninggalkan instruksi ke adikku lewat hapenya tentang apa yang harus mereka lakukan. Menghabiskan waktu 3 jam lebih di salon sampai semua beres dan kembali ke rumah.
Sesampai di rumah, mengenakan gaun pengantin putih tanpa lengan dengan ekor yang panjang, aku bergegas masuk ke kamar. Masalahnya di teras rumah sudah banyak orang, dan katanya sebentar lagi mempelai pria akan datang. Di dalam kamar ternyata fotografer sudah siap dengan peralatannya untuk mengambil beberapa gambar sebelum acara dimulai. Karena sedang kena pemadaman bergilir akibat banjir bandang yang melanda Palopo beberapa hari sebelumnya, listrik di rumahku tidak menyala. Untung ada genset yang telah diusahakan oleh panitia, sehingga aku bisa meminta untuk menyalakan kipas angin agar tidak kegerahan.
Jam setengah sembilan, Jojo as the groom, datang bersama keluarganya. Prosesi penjemputan mempelai wanita berlangsung cepat, tanpa adat apa-apa sesuai kesepakatan kami berdua. Setelah mengambil beberapa gambar, iring-iringan berangkat ke gereja. Di atas mobil pengantin, Jojo dan Chris (adik Jojo) sempat-sempatnya berbagi sepotong coklat. Sementara kak Anda (kakaknya Jojo) sibuk membenahi gaun pengantin yang aku gunakan.

Jujur aja, aku tidak deg-degan atau gugup. Rasanya biasa saja. Memasuki ruangan gereja bersama dengan Jojo pun kami masih sempat tertawa dan saling bercanda. Karena ga latihan sebelumnya, aku sempat hampir tersandung oleh gaun pengantin yang panjang itu, sementara Jojo menawarkan diri untuk menggendong…hehe..mana ada prosesi seperti itu..

Detak jantungku baru berdegup kencang saat akan membacakan janji pernikahan. Untungnya aku bisa membacakan janji tersebut dengan baik. Tetapi pada saat kami berdua mengucapkan beberapa kalimat terima kasih kepada orang tua dan dilanjutkan dengan memohon restu kepada orang tua, air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi. Antara sedih dan bahagia…. semua campur aduk.
Setelah acara pemberkatan dilanjutkan dengan pencatatan sipil oleh petugas negara. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa sesi foto bersama. Sebelum ke gedung resepsi aku harus berganti kostum, sehingga make-up team segera menarik aku ke sebuah ruangan di sebelah gereja.
Untuk acara resepsi, aku mengenakan kebaya modern berwarna kuning emas, yang dirancang dan dijahit sendiri oleh ibu mertuaku. Gaunnya bagus banget. Bagian roknya terdiri atas dua bagian, sebelah dalam berbahan kain satin berlapis yang diberi payet-payet pada ujung bawah, dan di sebelah luar kain tile halur bertaburkan ornamen keemasa. Bagian luarnya ini bisa dilepas, jadi gaun pengantin ini masih bisa digunakan lagi untuk acara lainnya.
Sesampai di gedung, kami harus menunggu lama di luar karena ternyata persiapan penyambutan di dalam belum beres. Di sini, para tamu dipersilahkan masuk terlebih dahulu, dan pengantin masuk belakangan diiring oleh keluarga. Persiapan sempat terhambat masalah teknis karena listrik belum neyala sehingga harus menggunakan genset. Masalahnya seharusnya ada dua genset yang digunakan, tetapi yang satu belum datang, akibatnya sound system tidak menyala (belakangan baru aku tahu kalau mobil yang membawa genset yang satu itu ditilang polisi entah karena kesalahan apa). Akhirnya lampu diredupkan dan kipas angin dimatikan supaya arus listriknya bisa digunakan untuk sound system dulu.
Kondisi ini berlangsung setengah acara. Diantara ratusan tamu (bahkan mungkin ribuan) yang naik ke pelaminan untuk bersalaman, aku dan Jojo sudah kegerahan. Chris bahkan sempat naik ke pelaminan hanya untuk mengipasi kedua mama mama yang kegerahan itu. Mana sebagian besar tamu aku tidak kenal, karena lebih banyak kenalan orangtuaku.
Acara pemotongan kue pengantin ditiadakan dan diganti dengan penyerahan bingkisan berupa Alkitab oleh kedua orang tua kepada kami. Kami lebih menghargai prosesi ini, sebagai suatu simbolik bukti kasih sayang orang tua ktimbang penyerahan sepotong kue. Seperti yang dikatakan oleh ibu mertuaku kepadaku seaktu penyerahan Alkitab itu, bahwa Alkitab ini bisa menjadi “modal” bagi kami untuk memasuki rumah tangga.
Acara berlangsung hingga pukul tiga sore. Setelah sesi pemotratan berakhir, aku dan Jojo langsung pulang ke rumah. Rasanya pengen segera melepaskan atribut-atribut yang melekat supaya tidak kegerahan. Sampai di rumah, ternyata keluarga yang semalam menginap di rumah sudah pada pulang, meninggalkan rumah yang masih berantakan. Terpaksa deh sisa hari itu kami turun tangan berbenah rumah. Acara berbenah rumah ga hanya berhenti hari itu, tapi dilanjutkan lagi beberapa hari sesudahnya. So kalo ditanya bulan madu kemana dan ngapain, sudah tentu kami jawab apa adanya…”di rumah aja berbenah”…hehe
Pernikahan kami sangat sederhana, tanpa foto prewedding, tanpa kue pengantin, tapi kami sangat bersyukur atasnya. Banyak hambatan yang terjadi tapi mujizat Tuhan terus terjadi. Kedua latar belakang suku yang berbeda bisa disatukan dalam sebuah acara yang kami yakini hanya bisa terjadi karena campur tangan Tuhan semata. Perjalanan ke depan masih panjang, apalagi dengan jarak yang memisahkan antara aku dan Jojo (seminggu setlah menikah Jojo harus kembali ke Papua). Tapi kami yakin Tuhan tidak berhenti mengadakan mujizatnya hari itu, tapi tetap ada di hari-hari kami berikutnya…
