Feed on
Posts
comments

ASAP

Hasil blogwalking. nemu yang bagus disini….

There’s work to do, deadlines to meet.
You’ve got no time to spare.
But as you hurry and scurry…
(Always Say A Prayer)
ASAP

In the midst of family chaos,
“quality time” is rare.
Do your best; let God do the rest…
(Always Say A Prayer)
ASAP

It may seem like your worries
are more than you can bear.
Slow down and take a breather…
(Always Say A Prayer)
ASAP

God knows how stressful life can be
and wants to ease our cares.
He’ll respond to all your needs…
(Always Say A Prayer)
ASAP

Today I’m saying a little prayer
that God will send a smile to you
and send you special blessings
through everything you have to do.

Source : www.inspiration-inbox.com

November, 8th 2008

Terbangun dini hari jam setengah empat subuh, mamaku sudah menyiapkan teh panas dan sepiring nasi untuk sarapan. Sambil memasakkan air panas untuk mandi, mama menyuruhku untuk segera sarapan dan memakan telur setengah matang sesudahnya. Di ruang tamu dan ruang tengah masih ada beberapa orang keluarga yang tertidur lelap. Sambil menhan kantuk karena semalam tidak bisa tidur lelap, aku menghabiskan sarapan. Hmm.. a brand new day is begin.. with me as the bride

Tepat pukul setengah lima, omku udah menjemput di depan rumah mau mengantarkan aku dan mama ke salon untuk dirias. Mama masih saja sibuk meninggalkan instruksi ke adikku lewat hapenya tentang apa yang harus mereka lakukan. Menghabiskan waktu 3 jam lebih di salon sampai semua beres dan kembali ke rumah.

Sesampai di rumah, mengenakan gaun pengantin putih tanpa lengan dengan ekor yang panjang, aku bergegas masuk ke kamar. Masalahnya di teras rumah sudah banyak orang, dan katanya sebentar lagi mempelai pria akan datang. Di dalam kamar ternyata fotografer sudah siap dengan peralatannya untuk mengambil beberapa gambar sebelum acara dimulai. Karena sedang kena pemadaman bergilir akibat banjir bandang yang melanda Palopo beberapa hari sebelumnya, listrik di rumahku tidak menyala. Untung ada genset yang telah diusahakan oleh panitia, sehingga aku bisa meminta untuk menyalakan kipas angin agar tidak kegerahan.

Jam setengah sembilan, Jojo as the groom, datang bersama keluarganya. Prosesi penjemputan mempelai wanita berlangsung cepat, tanpa adat apa-apa sesuai kesepakatan kami berdua. Setelah mengambil beberapa gambar, iring-iringan berangkat ke gereja. Di atas mobil pengantin, Jojo dan Chris (adik Jojo) sempat-sempatnya berbagi sepotong coklat. Sementara kak Anda (kakaknya Jojo) sibuk membenahi gaun pengantin yang aku gunakan.

Jujur aja, aku tidak deg-degan atau gugup. Rasanya biasa saja. Memasuki ruangan gereja bersama dengan Jojo pun kami masih sempat tertawa dan saling bercanda. Karena ga latihan sebelumnya, aku sempat hampir tersandung oleh gaun pengantin yang panjang itu, sementara Jojo menawarkan diri untuk menggendong…hehe..mana ada prosesi seperti itu..

Detak jantungku baru berdegup kencang saat akan membacakan janji pernikahan. Untungnya aku bisa membacakan janji tersebut dengan baik. Tetapi pada saat kami berdua mengucapkan beberapa kalimat terima kasih kepada orang tua dan dilanjutkan dengan memohon restu kepada orang tua, air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi. Antara sedih dan bahagia…. semua campur aduk.

Setelah acara pemberkatan dilanjutkan dengan pencatatan sipil oleh petugas negara. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa sesi foto bersama. Sebelum ke gedung resepsi aku harus berganti kostum, sehingga make-up team segera menarik aku ke sebuah ruangan di sebelah gereja.

Untuk acara resepsi, aku mengenakan kebaya modern berwarna kuning emas, yang dirancang dan dijahit sendiri oleh ibu mertuaku. Gaunnya bagus banget. Bagian roknya terdiri atas dua bagian, sebelah dalam berbahan kain satin berlapis yang diberi payet-payet pada ujung bawah, dan di sebelah luar kain tile halur bertaburkan ornamen keemasa. Bagian luarnya ini bisa dilepas, jadi gaun pengantin ini masih bisa digunakan lagi untuk acara lainnya.

Sesampai di gedung, kami harus menunggu lama di luar karena ternyata persiapan penyambutan di dalam belum beres. Di sini, para tamu dipersilahkan masuk terlebih dahulu, dan pengantin masuk belakangan diiring oleh keluarga. Persiapan sempat terhambat masalah teknis karena listrik belum neyala sehingga harus menggunakan genset. Masalahnya seharusnya ada dua genset yang digunakan, tetapi yang satu belum datang, akibatnya sound system tidak menyala (belakangan baru aku tahu kalau mobil yang membawa genset yang satu itu ditilang polisi entah karena kesalahan apa). Akhirnya lampu diredupkan dan kipas angin dimatikan supaya arus listriknya bisa digunakan untuk sound system dulu.

Kondisi ini berlangsung setengah acara. Diantara ratusan tamu (bahkan mungkin ribuan) yang naik ke pelaminan untuk bersalaman, aku dan Jojo sudah kegerahan. Chris bahkan sempat naik ke pelaminan hanya untuk mengipasi kedua mama mama yang kegerahan itu. Mana sebagian besar tamu aku tidak kenal, karena lebih banyak kenalan orangtuaku.

Acara pemotongan kue pengantin ditiadakan dan diganti dengan penyerahan bingkisan berupa Alkitab oleh kedua orang tua kepada kami. Kami lebih menghargai prosesi ini, sebagai suatu simbolik bukti kasih sayang orang tua ktimbang penyerahan sepotong kue. Seperti yang dikatakan oleh ibu mertuaku kepadaku seaktu penyerahan Alkitab itu, bahwa Alkitab ini bisa menjadi “modal” bagi kami untuk memasuki rumah tangga.

Acara berlangsung hingga pukul tiga sore. Setelah sesi pemotratan berakhir, aku dan Jojo langsung pulang ke rumah. Rasanya pengen segera melepaskan atribut-atribut yang melekat supaya tidak kegerahan. Sampai di rumah, ternyata keluarga yang semalam menginap di rumah sudah pada pulang, meninggalkan rumah yang masih berantakan. Terpaksa deh sisa hari itu kami turun tangan berbenah rumah. Acara berbenah rumah ga hanya berhenti hari itu, tapi dilanjutkan lagi beberapa hari sesudahnya. So kalo ditanya bulan madu kemana dan ngapain, sudah tentu kami jawab apa adanya…”di rumah aja berbenah”…hehe

Pernikahan kami sangat sederhana, tanpa foto prewedding, tanpa kue pengantin, tapi kami sangat bersyukur atasnya. Banyak hambatan yang terjadi tapi mujizat Tuhan terus terjadi. Kedua latar belakang suku yang berbeda bisa disatukan dalam sebuah acara yang kami yakini hanya bisa terjadi karena campur tangan Tuhan semata. Perjalanan ke depan masih panjang, apalagi dengan jarak yang memisahkan antara aku dan Jojo (seminggu setlah menikah Jojo harus kembali ke Papua). Tapi kami yakin Tuhan tidak berhenti mengadakan mujizatnya hari itu, tapi tetap ada di hari-hari kami berikutnya…

Membahas bahasa

Pagi ini sebelum berangkat kerja aku menonton suatu acara talk show di televisi. Di acara itu kedua MC-nya dan seorang nara sumber sedang membicarakan tentang kepuasan konsumen. Apa yang mereka bicarakan tidak menarik perhatianku, tapi sepanjang acara itu, ketiga orang ini saling menghitung penggunaan istilah asing untuk menggantikan kata-kata yang sebenarnya ada istilah dalam Bahasa Indonesia. Sesaat aku tersadar kalau hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda. 80 tahun yang lalu para pemuda mengikrarkan (salah satunya) untuk berbahasa Indonesia sebagai alat pemersatu. Hm…80 tahun yang lalu…

Tidak usah ditelusuri pun kita sudah tahu kalau penggunaan bahasa Indonesia menjadi kurang penting. Pelajaran bahasa Indonesia di ujian-ujian nasional kadang menjadi mata pelajaran dengan nilai yang rendah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Alasannya sederhana, menganggap sepele bahasa Indonesia. Pemuda sekarang lebih sering berbahasa gaul dibandingkan berbahasa Indonesia, belum lagi pengaruh globalisasi yang mengharuskan kita bisa menguasai minimal satu bahasa asing lainnya supaya bisa berperan di dunia internasional.

Sebenarnya (menurut yang aku dengar di sebuah acara televisi), bahasa Indonesia (atau Melayu) adalah bahasa ke-5 di dunia yang penggunanya paling banyak setelah bahasa Mandarin, Inggris, Spanyol, dan Hindi. Bahasa Indonesia bahkan pernah diusulkan untuk menjadi bahasa internasional, karena menurut pakar bahasa dari Depdiknas, Bahasa Indonesia sendiri sudah memenuhi standar menjadi bahasa internasional. Beberapa standar yang aku ketahui adalah jumlah pengguna yang banyak di dunia, punya alat penguji bahasa semacam TOEFL (kalau di Indonesia ada Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia), punya Kamus standar, dan memilki istilah/kata yang digunakan secara internasional di bidang ilmu pengetahuan.

Aku sendiri bukan seorang yang selalu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik penggunaan kata atau struktur kalimat. Baik saat berbicara ataupun saat menulis (kecuali menulis jurnal ilmiah, itu harus tidak boleh tidak kalau mau diterbitkan…hehe). Bahkan aku sendiri pernah menganggap untuk mengungkapkan perasaan paling pas kalau menggunakan bahasa Inggris, karena perbendaharaan kata mereka yang banyak.

Terlepas dari bahasa asing, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari rasanya lebih sering daripada bahasa Indonesia. Hal ini paling aku rasakan setelah bermukim di pulau Jawa. Di kampus di Yogyakarta dulu, teman-teman berbicara menggunakan bahasa Jawa. Tidak jarang dosen menjelaskan mata kuliah pakai bahasa Jawa (yang akhirnya aku mau ga mau belajar bahasa Jawa walaupun bukan yang halus..setidaknya asal aku mengerti apa yang mereka katakan). Begitu sampai di Bogor, aku harus kembali menyesuaikan diri dengan penggunaan bahasa Sunda. Bahkan di kantor, tidak jarang karyawan lain menggunakan bahasa Sunda untuk berdiskusi masalah pekerjaan denganku (padahal mereka tahu aku bukan orang Sunda). Berbeda dengan sewaktu aku di Sulawesi Selatan, walaupun dialeknya masih kerasa tapi saat berbicara dengan orang lain yang bukan sesuku, pasti menggunakan bahasa Indonesia. Percaya atau tidak aku baru belajar bahasa Toraja setelah aku berusia 13 tahun. Sejak kecil, kami (aku dan saudaraku) dibiasakan berbahasa Indonesia oleh kedua orang tuaku. Dan sebentar lagi aku harus menyesuaikan diri dengan bahasa Batak..hehe.

Aku tidak benar-benar mengenalnya. Tapi aku pernah berkunjung ke rumahnya. Dari hasil berjalan dari satu blog ke blog lainnya, aku tiba di rumah ini. Pemiliknya bernama Ruri a.k.a Sendja. Waktu itu aku tertarik membaca salah satu postingannya dimana ibunya ternyata dulu bekerja di kantorku sekarang. Aku meninggalkan jejak di sana, dan dia juga meninggalkan jejak di shoutbox blog template lama. Berhubung template berganti, aku tidak pernah lagi mengunjungi blognya.

Hingga kemarin sore, menghabiskan waktu sambil menunggu listrik menyala aku blogwalking lewat hape. Begitu sampai di sini, ada postingan tentang seseorang bernama Ruri. Karena penasaran, aku mengikuti linknya. Dan akhirnya aku sampai di blog ::my days::.

Aku sepertinya mengenal blog itu, walaupun sudah berganti skin. Apakah dia  Ruri yang itu? Postingan terakhir adalah cerita si penulis yang mengatakan dia sudah bisa masuk kerja. Postingan sebelumnya Ruri bercerita kalau dia masuk rumah sakit selama 23 hari karena mengidap penyakit ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura), yaitu kondisi dimana jumlah trombosit dalam darah lebih redah dibandingkan orang normal. Untuk memastikan dia adalah Ruri yang sama aku membuka-buka arsip tulisannya.

Ya…dia adalah Ruri si Sendja.

Aku tidak benar-benar mengenalnya. Tapi tetap saja ada rasa sedih yang ikut menjalar di dalam hatiku. Pada saat membaca blog teman-temanya yang bercerita tentang sosok Ruri, aku serasa seperti sudah lama mengenalnya.

Selamat jalan Ruri… Rest in peace.

A brand new day

Udah tiga hari ga bicara dengan Jojo. Jojo lagi di camp. Terakhir ngomong dengan dia, aku malah marah- marah ke dia karena dia bilang masih lama di camp. Merasa bersalah, kangen, kuatir campur aduk jadi satu. Jangan-jangan dia juga marah trus ga mau nelpon aku.  Pengen minta maaf ke dia… Berkali-kali nelpon ke camp, ga aktif atau di luar jangkauan. Maklum telpon satelit. Barusan iseng nyoba nelpon lagi, eh..ternyata tersambung

Disana : “halo…selamat siang…bala-bala-bla (ga jelas)”
Aku : “halo…maaf, bisa bicara dengan bapak joel yang dari kaimana?”
Disana :” oh, bapak joel panggabean ya..sebentar ya bu… ”
Aku : “eh..ntar saya telpon lagi deh kalau masih lama”
Disana : ” ga usah ditutup bu…ini bapak joel ada di sini.. ”
….ribut-ribut ga jelas di sana…
Jojo : ” halo… ”
Aku : ” abang ??? ” (nada ga percaya akhirnya bisa ngobrol)
Joel : ” iya, dek…kenapa ? ” (nada suaranya ga marah…ufff lega…)
Aku : ” ehm..anu..eh..ini…undangannya aku bayar pake duit di mandiri aja ya… ” (bingung mau ngomong apa)
Joel : ” oh..iya, dek..pake aja… ”
Aku : “abang kapan pulang? ”
Jojo : “aku masih 3 hari lagi dek… Jumat deh pulangnya”
Aku : ” ooh…(speechless..biasanya ngamuk kalo pulangnya diundur lagi) . Kamu baik-baik aja kan, bang ?”
Jojo : “wah..baik banget dek…sehat kok…”
Aku : “kok kemarin aku telpon ga bisa ya…trus kamu juga ga miscall, biar aku tahu telpon di sana lagi aktif”
Jojo : “pulsa telpon disini habis dek…tau nih orang pada kere beli pulsa…”(ada yang ketawa di sana…)
Aku : “Ohya…bang..aku mau minta….”
Tut..tut..tut..tut…. (telpon terputus)
Aku : aku mau minta maaf….( ngomong sendiri…)

Uuuh…minta maaf aja pake pembukaan yang panjang…

Itu hak mereka

Kalau menonton berita di tv, sepertinya tahun ini bisa diberi judul tahun perceraian. Baik itu di kalangan artis, maupun orang biasa. Di saat pasangan-pasangan itu sudah mencapai suatu masa dimana perceraian tidak dapat dihindarkan, maka mereka memilih jalan itu. Secara pribadi, aku sendiri menentang yang namanya perceraian, karena yang telah disatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Apalagi pada saat mengikat janji di depan altar atau penghulu, mereka sama-sama berkata “..sampai maut memisahkan kita“.

Salah satu perceraian di kalangan public figure yang cukup menarik perhatianku adalah perceraian Dewi Lestari-Marcelino. Dewi pun secara bersahaja menceritakan mengapa mereka menmpuh perceraian di dalam blognya. Awalnya aku tidak bisa mengerti mengapa dia mengambil jalan pikiran seperti itu. Tapi setelah membaca rectoverso karya terbarunya, pikiranku mulai terbuka. Di sisi lain, sebagai penonton-sang-public-figure-yang-tidak-mengenal-dia-secara-pribadi, saya merasa saya tidak punya hak untuk menghakimi dia atas apa yang telah dia pilih. Sejauh dia bahagia dan saya masih bisa menikmati karya-karyanya, itu hak dia (mereka).

Pagi ini, saya membaca blog milik Dewi, dimana tulisan terakhir di entry terbarunya membuat saya terhenyak…  Ada orang yang secara sengaja masuk ke dalam teritori pribadinya dan akhirnya mematahkan semangatnya untuk berkarya sehubungan dengan kasus perceraiannya ( CMIIW..ini hanya asumsiku setelah membaca tulisannya).

Terkadang kita merasa paling tahu akan jalan hidup orang lain ataupun merasa paling tahu apa yang terbaik untuk orang lain. Sehingga ucapan kita bukan lagi sekedar saran dan kritik, tapi sudah menjadi vonis dari penghakiman. Secara sadar ataupun tidak sadar, kita bisa memtahkan semangat hidup orang tersebut, dan kita hanya berkata “kan..udah guwe bilang apa juga..“. Bukankah kita sudah memiliki jalan hidup masing-masing yang harus dipertanggungjawabkan tanpa harus ikut mempertanggungjawabkan jalan hidup orang lain. Mungkin itu sebabnya hanya ada kalimat “menerima kritik dan saran” dan bukan kalimat “menerima vonis dan penghakiman“..

Itu hak mereka. Itu jalan yang mereka pilih. Dan sebagai penonton, sebaiknya kita hanya lihat dan diam. Ambil pelajarannya, tapi jangan hakimi mereka.

Gambar diambil dari sini.

Nanny 911

Setiap tahun aku ikutan mudik bersama ribuan para  pemudik lainnya. Ritual ini sudah aku lakukan sejak  masih kuliah. Setiap tahun, aku ikut memacu adrenalin  dalam ritual berjudul mudik. Sebenarnya aku ga mudik  a.k.a pulang ke rumah, tapi aku berkunjung ke rumah  saudaraku yang masih ada di pulau Jawa ini.

Tahun ini giliran rumah sepupuku yang aku datangi. Jauh hari sebelumnya aku udah janjian dengan para sepupu yang lain untuk kumpul di Bandung, di rumah sepupuku itu. Tapi entah kenapa dan dengan berbagai alasan satu per satu mereka membatalkan acara kumpul-kumpul itu. Jadinya aku sendirian datang ke Bandung.

Niat berlibur ternyata jadi menguap begitu aku tiba di Bandung. Berhubung sepupuku ini kerja di sebuah rumah sakit swasta, dia ga bisa libur seperti kebanyakan pegawai lainnya. Dan berhubung pembantunya juga mudik, jadilah aku sebagai sukarelawan-yang-terpaksa menjadi pengasuh sementara untuk anak semata wayangnya yang berumur 4 tahun.

Jangan membayangkan seorang anak yang manis dan lucu (okeylah…dia manis dan lucu tapi hanya pada waktu dia tidur dan minum susu). Hilde, nama ponakanku itu, super duper ngeyel dan malas makan (sampai aku bertanya ke mamanya, ngidam apa sih waktu Hilde masih di dalam perut). Maunya minum susu aja… dan nonton Barney. Untungnya masih ada dua kesukaannya itu yang menjadi andalan terkahir kalau aku udah kewalahan ama dia.

Mungkin anaknya emang hiperaktif. Kalau tidur malam aja, kadang masih ngigau sambil gerak-gerak ga karuan. Trus kalau lagi di motor, ga pernah berhenti menyanyi dan bergerak. Sampai-sampai aku menjuluki dia MP4 player.

Tidak jarang aku terlibat adu mulut ama dia. Kayak begini

Hilde : Tante Desty, Hilde mau minum susu…
Aku : Kan kamu belum makan, tadi udah minum susu juga
Hilde : Kalo aku bilang minum susu ya minum susu !!!
Aku : Nanti kalo sakit perut gimana?
Hilde : Iiih..tante Desty ini banyak nanya aja…Maunya minum susu!!! (teriak kenceng)
Aku : Tapi pake gelas ya…
Hilde : Ga!!! Maunya pake botol!!! (masih kenceng)

Daripada aku dituduh menganiaya anak di bawah umur sama tetangga yang mendengar teriakannya, aku bikinin aja susu dalam botol untuk dia, sambil berharap dia mau tidur setelah minum susu. Ternyata habis minum susu, dia jadi lebih energik… Whoaaaa….

Waktu aku curhat ke mamanya, mamanya bilang buat aku latihan kalau udah punya anak nanti. Aduh, kalau tiap hari harus perang ama anak, gawat juga ya… Mungkin aku harus membeli buku pegangan Nanny 911 yang udah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia itu.

Feel So Special

Kemarin aku menghabiskan hari Mingguku dengan menonton serial House MD season 2. Lumayan menghilangkan kebosanan karena ga bisa ngobrol ama Jojo. Dia lagi ke pelosok-nun-jauh-di-Papua, yang ga bisa dijangkau ama sinyal telpon selular. Menjelang sore, hapeku bunyi. Nomornya tidak aku kenal. Suaranya juga terputus-putus. Tapi aku kenal suara itu. Jojo…dia nelpon aku pake telpon satelit yang katanya mahal itu. Cuma 1 menit 57 detik untuk bilang ngetes telpon satelit, dan kalau ada apa-apa hubungi dia di nomor itu aja… Hm…mungkin ga sih dia juga kangen ama aku? Aku kenal Jojo yang tidak mau membuang uang untuk hal yang ga penting banget.  Whatever that…I feel so special coz he do that things to me…

Jakarta atas bawah

Buku benny-mice yang terbaru udah terbit. Judulnya  Jakarta  Atas  Bawah, diterbitkan oleh Nalar. Bulan  Agutus, di  shoutbox blog lama aku dikasih tahu ama  ”Leo” kalo buku itu mau terbit. Ternyata bisa pesan  dulu, dan harganya diskon. Tapi dapat email  pemberitahuan bukunya dah terbit, aku malah ga bisa transfer. Pasalnya pagi itu, ATM BCA-nya ngadat. Habis itu lupa deh…

Kemarin sore ke Gramedia, bukunya udah ada. Langsung samber, bayar ke kasir. Malamnya baca buku itu sambil ketawa-ketawa (Ga mungkin ga ketawa baca buku itu). Walaupun udah sayup-sayup matanya, rasanya sayang melepaskan buku itu sampai halaman terakhir.

Isinya ga beda jauh ama ”Jakarta Luar Dalam”, yaitu kumpulan kartun-kartun mereka di koran Kompas Minggu yang dibukukan. Dengan tema-tema yang sederhana, kumpulan kartun itu jadi ”satire” bagi pihak-pihak tertentu. Bahkan ada tema khusus seperti ”Ramadhan can be fun” dan ”Cihuuuuy..Masuk TV!!!”. Kayaknya sengaja diterbitkan di tengah bulan Ramadhan ini.

Aku baru tahu, kalo ternyata ide kreatif mereka dicontek ama tanyangan-tv-sitkom-yang-ratingnya-ga-tinggi. Aku ga pernah liat, tapi menurut penerbit dan penulis, itu ga pake minta izin ke mereka. Setidaknya cantumin sumber ide-nya lah… Tapi orang-orang juga ga bisa dibodohi kok… Kartun benny-mice tiap minggu di koran Kompas tuh udah terkenal banget dan jadi yang ditunggu setiap minggu. Jadi kalo ada yang coba-coba melakukan plagiat, ketahuan deh…

Di bagian belakang buku itu ada sub judul ”komentar dari dunia maya”. Waktu aku baca komentar pertama, kok kayaknya kenal ama tulisan itu. Ternyata saudara-saudara…itu tulisanku !! Kyaaaaa… tulisanku dimuat di bukunya be-mi!! (Uh…serasa jadi penulis terkenal deh…hehe). Pantesan aja kemarin dihubungi duluan ama penerbitnya.

Tapi sayangnya, link yang tercantum disana adalah link blog versi lama. Tapi kalo mau baca tulisanku tentang be-mi itu klik disini. Tapi kayaknya lebih seru baca yang di bukunya be-mi yang baru, ”Jakarta Atas Bawah” (hehe..narsis plus promosi). Murah kok, hanya 30rb rupiah aja, bisa buat hilangkan stress berkali-kali. Dijamin !!!

Ohya, yang mau ngomongin benny & mice datang ke forumnya aja. Ada di sini.

Older Posts »